|
Nurul, Semangat Memintarkan Anak-anak Gunung
27/08/2009 - 12:58:26 | Read 48 Time(s)
"Sakit hati tak selalu berbuah dendam. Sebaliknya, sakit hati diakui
Nurul Karimah justru melecut energi positif untuk mendirikan komunitas
belajar, layanan pendidikan gratis bagi anak-anak putus sekolah di lereng
Gunung Sumbing."
Sakit hati tak selalu berbuah dendam. Sebaliknya, sakit hati diakui Nurul
Karimah justru melecut energi positif untuk mendirikan komunitas belajar,
layanan pendidikan gratis bagi anak-anak putus sekolah di lereng Gunung
Sumbing.
Komunitas Belajar Cendekia Mandiri didirikan Yayasan Cendekia Mandiri,
yang diketuai Nurul. Letaknya di lereng Gunung Sumbing, Dusun Kemloko, Desa
Kemloko, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Setiap hari
mereka menyelenggarakan kegiatan belajar bagi anak-anak yang tak lulus SD
atau tak mampu merampungkan SMP. Lokasinya di bekas gudang tembakau, di rumah
Mbah Dawam, seorang warga.
Pendirian komunitas belajar itu dilatarbelakangi pengalaman pribadinya.
Sebagai anak pertama dari 10 bersaudara keluarga petani, dia sempat hampir
tak bisa belajar di SMA karena tak ada biaya. Nurul memenuhi biaya sekolah
dengan bekerja di salon dan membuat kue. Upaya ini terus dia lakukan hingga
ke jenjang perguruan tinggi.
Kendati berhasil mencapai apa yang dicita-citakan, rasa khawatir saat
dirinya terancam putus sekolah gara-gara tak ada biaya menjadi kenangan yang
tak terlupakan.
Bahkan, saat Nurul telah menjadi guru Matematika di SMP 5 Temanggung,
kenangan itu muncul kembali saat dia melihat banyak anak didiknya mengalami
nasib serupa dirinya, terancam putus sekolah karena tak ada biaya.
”Saya yakin, mereka merasakan sakit hati yang sama seperti saya dulu,”
ujarnya.
Melihat kenyataan tersebut, hatinya tak tenang. Ia merasa harus membantu.
Niat itu semakin kuat setelah melihat hasil penelitian Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Temanggung tahun 2005, yaitu angka
partisipasi kasar (APK) di desa-desa di lereng gunung, anak-anak SD yang
melanjutkan ke SMP sekitar 70 persen.
”Seorang teman bercerita, di suatu dusun di lereng Gunung Sumbing, dari 80
anak yang lulus SD, hanya 20 anak yang melanjutkan ke SMP,” ujarnya.
Nurul mendiskusikan niat membantu anak-anak putus sekolah itu dengan rekan-rekannya
alumni SMA Negeri 1 Temanggung. Gayung pun bersambut. Temannya, Sri Yudono
dan Anif Punto Utomo, mendukung niat itu. Mereka menggunakan rumah Mbah
Dawam, kakek Sri Yudono, sebagai lokasi sekolah.
Nurul memilih lokasi di desa. Alasannya, ”Kalau di pusat Kecamatan
Temanggung, sekolah itu tak banyak berarti karena mayoritas masyarakat di
perkotaan terbilang mampu dan terbuka akses buat bersekolah di mana saja.
Lebih baik kami membantu di daerah terpencil, yang jumlah sekolahnya
terbatas”.
Berbagai Latar Belakang
Mereka lalu bekerja. Disediakanlah dua meja, dua white board, dan
tiga komputer. Agar memiliki dasar hukum, Nurul melaporkan pendirian
komunitas belajar ini kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan
Informal serta Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan
Tembarak.
Untuk menarik murid, pembukaan komunitas pada 2007 itu diumumkan lewat
Pemerintah Desa Kemloko. Dari target 20 murid, jumlah anak yang mendaftar
mencapai 37 orang. Proses pembelajaran dimulai dengan melibatkan tujuh
relawan, termasuk Nurul.
Proses memintarkan anak-anak gunung pun dimulai. Ini bukan tugas mudah
karena para murid berasal dari berbagai latar belakang. ”Selulus SD,
ada murid yang langsung menjadi buruh tani, kuli bangunan, hingga pencuri kayu
di hutan,” ujarnya.
Maka, pada awal kegiatan belajar para murid sulit diatur. Mereka
berpembawaan liar dan acap berkata-kata kasar. Nurul menyikapinya dengan
memberi tambahan materi pendidikan budi pekerti, di luar mata pelajaran umum.
Kendala lain juga muncul dari luar komunitas. Pada tahun pertama berdiri,
Komunitas Belajar Cendekia Mandiri malah ditentang sebagian warga. Bahkan,
sejumlah tokoh masyarakat curiga mereka mengajarkan aliran agama tertentu.
”Waktu itu kami sampai mendapat peringatan keras dan diminta angkat kaki
dari Desa Kemloko,” ujarnya.
Nurul mengatasinya dengan menguatkan ikatan di antara para murid. Dengan
upaya ini, dia berharap anak-anak tetap bersemangat belajar bersama dan mampu
memberi citra baik komunitas kepada masyarakat desa.
Minat Belajar Rendah
Ketika komunitas belajar sudah diterima warga, muncul tantangan lain.
Ternyata minat belajar sebagian murid itu rendah. Ini mengakibatkan jumlah
murid menyusut, hingga hanya ”tersisa” 23 siswa. Jumlah siswa ini pun
naik-turun seiring aktivitas musim tanam dan panen tembakau.
”Sekolah ini berada di lingkup petani tembakau sehingga kami harus
memahami bahwa anak-anak itu diwajibkan membantu orangtua bertani tembakau,”
ujarnya.
Mengikuti ritme kesibukan bertani dan musim panen tembakau pada
Agustus-September, jam belajar yang sebelumnya berlangsung setiap hari pun
diubah menjadi sekali dalam seminggu.
Kurikulum yang dipakai mengacu pada kurikulum pendidikan luar sekolah,
meskipun di luar kurikulum setiap anak bebas untuk memilih belajar apa saja,
mulai dari melukis, menari, bernyanyi, atau mengutak-atik komputer. Semuanya
gratis.
”Terkadang kami mengajak teman yang punya keahlian khusus untuk mengajar dan
membagi ilmunya dengan anak-anak komunitas,” ujarnya.
Dengan cara itu, tahun lalu anak-anak di Komunitas Belajar Cendekia Mandiri
bisa membuat film indie didampingi seorang produser film indie dari Yogyakarta.
Dalam menyampaikan materi pelajaran pun, pengajar menempatkan diri setara
dengan para murid. ”Anak-anak bebas bertanya, protes, atau berdialog dengan
pengajar tanpa harus memanggil dengan embel-embel mas, mbak, pak, atau bu.”
Untuk mendukung biaya operasional, Komunitas Belajar Cendekia Mandiri
didukung dana yang relatif terbatas. Setiap bulan komunitas ini mendapat
sumbangan Rp 2 juta dari donatur dan lebih dari 50 persen di antaranya untuk
honor para relawan.
Kendati sudah berhasil mendirikan satu komunitas belajar, Nurul masih
berkeinginan mendirikan komunitas serupa di berbagai desa di kawasan lereng
Gunung Sindoro-Sumbing. Dengan itu, dia berharap tidak ada lagi anak usia
sekolah yang terpaksa putus sekolah karena terkendala ketiadaan biaya.
”Putus sekolah karena kita tidak punya biaya itu sungguh menyakitkan
hati,” ucapnya serius.
Oleh: Regina
Rukmorini/Wartawan Harian Kompas
Sumber: http://edukasi.kompas.com/ 27 Agustus 2009
Penulis: dweehan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar